waktu lalu saat menunggu buka puasa saya sempatka diri untuk membeli makanan /lauk di warung tegal dekat rumah saya.Waktu membeli saya pun sempatkan bertanya pula kepada salah satu pelayan di warteg tersebut.Dari penjelasan pelayan banyak informasi yang saya dapatkan diantaranya,pemilik asli warung tegalnya ternyata bukan orang asli tegal,melainkan orang jawa timur yang kebetulan merantau ke jakarta.

Di warung tegal itu terdapat 4 orang pegawai dimana mereka masih satu daerah tempat tinggal dengan pemiliknya,dan mereka ternyata masih bersaudara.Dalam bekerja masing-masing pegawai diberikan porsi jam kerja yang telah diatur atau ditentukan oleh si pemilik warung tegal tesebut.

Ketika ditanyakan tentang pendapatan yang mereka dapatkan,hasilnya cukup lumayan besar sekitar +/- Rp 500.000,00 dan ketika memasuki dibulan puasa ini pendapatan mereka meningkat 10- 20%.sebelum dikurangi biaya-biaya lain.lalu ketika ditanyakan berapakah upah /gaji yang mereka terima masing-masing pegawai kalau dihitung per harinya sekitar Rp 15.000,00 atau Rp 450.000 per bulan, itu belum di termasuk tambahan THR dari pemilik warung tegal.dan kelebihan dari keuntungan tersebut masuk kedalam kas si pemiliknya warung tegal tersebut.Dalam sebulan modal yang digunakan si pemilik untuk mendirikan usaha tersebut sudah bisa kembali Dan bukan hanya itu ,bahkan dari hasil usaha tersebut pemilik sudah bisa memiliki rumah cukup mewah dan kendaraan di kampungnya,serta bisa memberangkatkan dirinya dan orang tuanya pergi ke tanah suci.

dan dari deskripsi diatas disimpulkan bahwa dalam pengalokasian sumber daya manusia di perusahaan kecil seperti warung tegal tersebut diketahui pengambilan atau perekrutan pegawai dimbil masih dari dalam satu keluarga.Dan dalam pencatatan keuangan masih bisa dibilang sederhana.