Hasil

Analisis Perkembangan LKM tidak terlepas perkembangan UKM dan perkembangan LKM itu sendiri di Indonesia. Keberadaan LKM muncul seiiring dengan pesatnya aktifitas UKM namun di sisi lain dihadapkan pada kendala keterbatasan mengakses sumber-sumber pembiayaan dari lembaga-lembaga keuangan formal. Pembahasan disini akan diawali dengan perkembangan UKM, kemudian dilanjutkan dengan darimana UKM memperoleh sumber-sumber permodalan, perkembangan LKM dan diakhiri dengan uraian potensi dan permasalahan LKM di masa mendatang.

Perkembangan UKM

Berdasarkan Data BPS tahun 2005, kondisi UKM periode 2001 sampai 2004 menunjukkan perkembangan positif. Selama periode ini, kontribusi UKM terhadap produk domestik bruto rata-rata mencapai 56,04 persen. Secara sektoral aktivitas UKM ini mendominasi sektor pertanian, bangunan, perdagangan, hotel dan restoran.Sektor-sektor ini merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja.

terlihat bahwa masing-masing kelompok usaha memiliki keunggulan komparatif dan saling melengkapi satu dengan lainnya. Kelompok Usaha Besar memiliki potensi sebagai motor pertumbuhan, sementara kelompok Usaha Kecil sebagai penyeimbang pemerataan dan penyerapan tenaga kerja. Hambatan ini timbul karena lembaga-lembaga keuangan formal pada umumnya memperlakukan UKM sama dengan Usaha Menengah dan Besar dalam setiap pengajuan pembiayaan, yang antara lain mencakup kecukupan jaminan, modal, maupun kelayakan usaha .Padahal hampir sebagian besar pelaku UKM tidak mampu memenuhi persyaratan tersebut disamping kebutuhan mereka masih dalam skala kecil, yang dipandang oleh sebagian pelaku lembaga-lembaga keuangan formal memberatkan biaya operasional. Melihat dari data yang ada seperti yang di bawah menjelaskan bahwa jumlah persentase terhadap jumlah penduduk miskin terjadi peurunan dari tahun ke tahun.

tahun garis kemiskinan jumlah penduduk miskin persentase terhadap total penduduk
2001 180.393 37.9 18.4
2002 227.011 38.4 18.2
2003 244.691 37.3 17.4
2004 252.18 36.1 6.7
2005 268.058 35.1 16

Dilihat dari tahun 2001 yang persentase jumlah penduduk miskin sebesar 18.4 % yang kemudian menurun terus menerus sampai pada 2004 yang mencapai 6.7% namun kemudian naik kembali pada tahun 2005 sebesar 16 %.perkembangan LKM juga dapat dipengaruhi oleh factor lain seperti pada table berikut

Kondisi tingkat penganguran(dalam persentase)

tahun tingkat penganguran (dalam persentase)
2001 4.68
2002 3.36
2003 5.39
2004 9.5
2005 10.3

Dalam table dapat dilihat bahwa tingkat pengangguran meningkat dari tahun ke tahun sehingga berpengaruh terhadap perkembangan LKM di Indonesia.

Pembahasan

Pada analisis menggunakan metode linier berganada diketahui bahwa persamaan regresi

:Y = 31.8981 + 1.4442X1 + 3.1181X2

Uji t  :Ho jumlah penduduk miskin tidak berpengaruh Ha :jumlah penduduk miskin berpengaruh terhadap perkembangan LKM

>0.05 Ho diterima

Jumlah penduduk miskin =0.0469<0.05 kesimpulan :jumlah penduduk miskin berpengaruh terhadap perkembangan LKM

Ho :tingkat penganguran tidak berpengaruh Ha: tingkat pengangguran berpengaruh terhadap perkembangan LKM

Tingkat pengangguran =0.0266 < 0.05 kesimpulan :  tingkat pengangguran berpengaruh terhadap perkembangan LKM

Kesimpulan dan Saran

Dari factor kunci yang anda , dapat dibuat akar permasalahan dan solusinya dalam memecahkan permasalahan kemiskinan di Indonesia.bebrapa factor tesebut hanya sebagian kecil dari berbagai masalah yang membutuhkan alternative solusi dalam upaya pencapaian target MDGs 2015.pembangunan yang sejatinya tetap berkomitmen untuk menurunkan kemiskinan secara menyeluruh ,bukan sebagian saja,dan pencapaian dengan waktu yang lebih cepat.

  1. Keberadaan LKM diakui masyarakat memiliki peran strategis sebagai intermediasi aktivitas perekonomian yang selama ini tidak terjangkau jasa pelayanan lembaga perbankan umum/bank konvensional;
  2. (2) Secara faktual pelayanan LKM telah menunjukkan keberhasilan, namun keberhasilannya masih bias pada usaha-usaha ekonomi non pertanian. Skim perkreditan LKM untuk usahatani belum mendapat prioritas, hal itu ditandai oleh relatif kecilnya plafon (alokasi dana) untuk mendukung usahatani, yakni kurang dari 10 % terhadap total plafon LKM;

Upaya pengentasan kemiskinan dapat dilakukan dengan memutus mata rantai kemiskinan itu sendiri,antara lain dengan memperluas akses Usaha Kecil dan Mikro (UKM) dalam mendapatkan fasilitas permodalan yang tidak hanya bersumber dari lembaga keuangan formal tapi juga dari Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Potensi yang cukup besar tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal, karenamasmenghadapiberbagai kendala dan keterbatasan antara lain aspek kelembagaan yang tumpang tindih, keterbatasan sumber daya manusia dalam pengelolaan LKM dan kecukupan modal, Upaya untuk menguatkan dan mengembangkan LKM sebagai salah satu pilar sistem keuangan nasional, diantaranya yang mendesak adalah menuntaskan RUU tentang LKM agar terdapat kejelasan dalam pengembangan LKM. Serta komitmen pemerintah dalam memperkuat UKM sebagai bagian tidak terpisahkan dari pengembangan LKM.

Saran :

Perlu adanya komitmen terhadap kemiskinan dalam upaya mencapai target MDGs yang di inginkan serta mendorong pembangunan yang menjamin pemerataan yang seluas-luasnya didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas, infrastruktur yang maju dan penerapan ilmu pengetahuan  dan berwawasan lingkungan serta didukung oleh pelaksanaan politik luar negeri yang bebas dan aktif