Category: METODE RISET


Hasil

Analisis Perkembangan LKM tidak terlepas perkembangan UKM dan perkembangan LKM itu sendiri di Indonesia. Keberadaan LKM muncul seiiring dengan pesatnya aktifitas UKM namun di sisi lain dihadapkan pada kendala keterbatasan mengakses sumber-sumber pembiayaan dari lembaga-lembaga keuangan formal. Pembahasan disini akan diawali dengan perkembangan UKM, kemudian dilanjutkan dengan darimana UKM memperoleh sumber-sumber permodalan, perkembangan LKM dan diakhiri dengan uraian potensi dan permasalahan LKM di masa mendatang.

Perkembangan UKM

Berdasarkan Data BPS tahun 2005, kondisi UKM periode 2001 sampai 2004 menunjukkan perkembangan positif. Selama periode ini, kontribusi UKM terhadap produk domestik bruto rata-rata mencapai 56,04 persen. Secara sektoral aktivitas UKM ini mendominasi sektor pertanian, bangunan, perdagangan, hotel dan restoran.Sektor-sektor ini merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja.

terlihat bahwa masing-masing kelompok usaha memiliki keunggulan komparatif dan saling melengkapi satu dengan lainnya. Kelompok Usaha Besar memiliki potensi sebagai motor pertumbuhan, sementara kelompok Usaha Kecil sebagai penyeimbang pemerataan dan penyerapan tenaga kerja. Hambatan ini timbul karena lembaga-lembaga keuangan formal pada umumnya memperlakukan UKM sama dengan Usaha Menengah dan Besar dalam setiap pengajuan pembiayaan, yang antara lain mencakup kecukupan jaminan, modal, maupun kelayakan usaha .Padahal hampir sebagian besar pelaku UKM tidak mampu memenuhi persyaratan tersebut disamping kebutuhan mereka masih dalam skala kecil, yang dipandang oleh sebagian pelaku lembaga-lembaga keuangan formal memberatkan biaya operasional. Melihat dari data yang ada seperti yang di bawah menjelaskan bahwa jumlah persentase terhadap jumlah penduduk miskin terjadi peurunan dari tahun ke tahun.

tahun garis kemiskinan jumlah penduduk miskin persentase terhadap total penduduk
2001 180.393 37.9 18.4
2002 227.011 38.4 18.2
2003 244.691 37.3 17.4
2004 252.18 36.1 6.7
2005 268.058 35.1 16

Dilihat dari tahun 2001 yang persentase jumlah penduduk miskin sebesar 18.4 % yang kemudian menurun terus menerus sampai pada 2004 yang mencapai 6.7% namun kemudian naik kembali pada tahun 2005 sebesar 16 %.perkembangan LKM juga dapat dipengaruhi oleh factor lain seperti pada table berikut

Kondisi tingkat penganguran(dalam persentase)

tahun tingkat penganguran (dalam persentase)
2001 4.68
2002 3.36
2003 5.39
2004 9.5
2005 10.3

Dalam table dapat dilihat bahwa tingkat pengangguran meningkat dari tahun ke tahun sehingga berpengaruh terhadap perkembangan LKM di Indonesia.

Pembahasan

Pada analisis menggunakan metode linier berganada diketahui bahwa persamaan regresi

:Y = 31.8981 + 1.4442X1 + 3.1181X2

Uji t  :Ho jumlah penduduk miskin tidak berpengaruh Ha :jumlah penduduk miskin berpengaruh terhadap perkembangan LKM

>0.05 Ho diterima

Jumlah penduduk miskin =0.0469<0.05 kesimpulan :jumlah penduduk miskin berpengaruh terhadap perkembangan LKM

Ho :tingkat penganguran tidak berpengaruh Ha: tingkat pengangguran berpengaruh terhadap perkembangan LKM

Tingkat pengangguran =0.0266 < 0.05 kesimpulan :  tingkat pengangguran berpengaruh terhadap perkembangan LKM

Kesimpulan dan Saran

Dari factor kunci yang anda , dapat dibuat akar permasalahan dan solusinya dalam memecahkan permasalahan kemiskinan di Indonesia.bebrapa factor tesebut hanya sebagian kecil dari berbagai masalah yang membutuhkan alternative solusi dalam upaya pencapaian target MDGs 2015.pembangunan yang sejatinya tetap berkomitmen untuk menurunkan kemiskinan secara menyeluruh ,bukan sebagian saja,dan pencapaian dengan waktu yang lebih cepat.

  1. Keberadaan LKM diakui masyarakat memiliki peran strategis sebagai intermediasi aktivitas perekonomian yang selama ini tidak terjangkau jasa pelayanan lembaga perbankan umum/bank konvensional;
  2. (2) Secara faktual pelayanan LKM telah menunjukkan keberhasilan, namun keberhasilannya masih bias pada usaha-usaha ekonomi non pertanian. Skim perkreditan LKM untuk usahatani belum mendapat prioritas, hal itu ditandai oleh relatif kecilnya plafon (alokasi dana) untuk mendukung usahatani, yakni kurang dari 10 % terhadap total plafon LKM;

Upaya pengentasan kemiskinan dapat dilakukan dengan memutus mata rantai kemiskinan itu sendiri,antara lain dengan memperluas akses Usaha Kecil dan Mikro (UKM) dalam mendapatkan fasilitas permodalan yang tidak hanya bersumber dari lembaga keuangan formal tapi juga dari Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Potensi yang cukup besar tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal, karenamasmenghadapiberbagai kendala dan keterbatasan antara lain aspek kelembagaan yang tumpang tindih, keterbatasan sumber daya manusia dalam pengelolaan LKM dan kecukupan modal, Upaya untuk menguatkan dan mengembangkan LKM sebagai salah satu pilar sistem keuangan nasional, diantaranya yang mendesak adalah menuntaskan RUU tentang LKM agar terdapat kejelasan dalam pengembangan LKM. Serta komitmen pemerintah dalam memperkuat UKM sebagai bagian tidak terpisahkan dari pengembangan LKM.

Saran :

Perlu adanya komitmen terhadap kemiskinan dalam upaya mencapai target MDGs yang di inginkan serta mendorong pembangunan yang menjamin pemerataan yang seluas-luasnya didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas, infrastruktur yang maju dan penerapan ilmu pengetahuan  dan berwawasan lingkungan serta didukung oleh pelaksanaan politik luar negeri yang bebas dan aktif

Iklan

bab 2.metodologi penelitian

BAB II
II.I Objek penelitian

Adapun yang menjadi objek penelitian dalam penulisan ini adalah LKM di Jawa dan Luar Jawa meliputi Jawa Barat, Banten, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan.

II.II Metode Pengambilan Data

Pengambilan data dilakukan dengan cara :

Data primer : Pengumpulan data primer dari Pengurus LKM terpilih dan nasabah LKM sebagai responden dilakukan melalui diskusi kelompok dan wawancara individual (survey) menggunakan pedoman pertanyaan dan kuesioner.

Data sekunder : Data yang digunakan dalam tulisan ini bersumber dari data sekunder yaitu publikasi Badan Pusat Statistik, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Bank Indonesia, Pegadaian, Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (Pinbuk) serta sumber lainnya yang terkait.

Data yang digunakan berasal dari variabel sepeti jumlah penduduk miskin,tingkat pengangguran.

Data tesebut dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh dari variabel yang di uji.

II.III Model Penelitian

  • Hipotesis

Ho :Tidak ada peningkatan yang signifikan dalam perkembangan LKM dari tahun ke tahun

Ha : ada peningkatan yang signifikan dalam perkembangan LKM dari tahun ke tahun

  • Alat analisis

penelitian ini menggunakan pendekatan analisis deskriptif kualitatif dipertajam dengan analisis Structure Conduct Performance (SCP). Dalam penulisan ini menggunakan metode analisis deskriptif dimana menggunakan linier regresi dengan rumus

Y = a +b1X1 + b2X2

Keterangan :

Y =  LKM di berbagai daerah

a = Konstanta

b = Koefisien regresi

X1 = jumlah penduduk miskin

X2 = tingkat pengangguran

 

Bab.1 Pendahuluan

TEMA : EKONOMI PEMBANGUNAN

Analisa Perkembangan Lembaga Keuangan Mikro Terhadap Pembangunan Ekonomi di Indonesia.

heri budi s (2010)

BAB I

PENDAHULUAN

I.I Latar Belakang

Millenium development goals (MDGs) merupakan deklarasi millennium summit yang menyatakan komitmen dalam suatu kebersamaan dengan komunitas internasional unatuk mencapai tujuan tujuan yang terukur untuk pembangunan dan pengurangan kemiskinan pada tahun 2015.Indonesia sebagai Negara yang berkeinginan untuk mewujudkan target MDGs ,harus melihat dan menganalisa tantangan , kondisi dan alternative uantuk mencapai MDGs di Indonesia .Tingginya jumlah kemiskinan di Indonesia ,menjadikan suatu tantangan yang berat.Penduduk miskin tidak terbatas pada kekurangan uang saja tapi juga keterbatasan financial dalam mengakses sarana dan prasarana social ekonomi.Kondisi pekerjaan pertanian yang merupakan mata pencarian utama mayoritas penduduk Indonesia, dari kondisi tersebut dapat  diprediksi pembangunan global ,tantangan pencapaian MDGs serta prioritas pembangunan ekonomi Indonesia.

Keberadaan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) tidak terlepas dari perkembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Peranan UMKM terutama sejak krisis moneter tahun 1998 dapat dipandang sebagai katup penyelamat dalam proses pemulihan ekonomi nasional, baik dalam mendorong laju pertumbuhan ekonomi maupun penyerapan tenaga kerja. Upaya pengentasan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah selama ini lebih menitikberatkan bentuk-bentuk transfer atau subsidi, padahal dalam rantai kemiskinan tidak selalu harus diatasi dengan cara tersebut. Aspek yang lebih penting adalah memutus mata rantai kemiskinan yang dapat dilakukan antara lain dengan memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat miskin menjadi produktif, yang dalam pepatah disebut “jangan berikan umpannya tapi berikanlah kailnya”, sehingga sangat relevan jika mengupayakan LKM sebagai salah satu pilar sistem keuangan nasional. Pembangunan ekonomi pedesaan sebagai bagian integral dari Pembangunan Ekonomi Nasional, keberhasilannya banyak di sokong oleh kegiatan usaha tani. Hal itu merujuk fakta, sebagian besar masyarakat di pedesaan menggantungkan hidupnya dari kegiatan usahatani. Oleh karena itu tidak mengherankan, kegiatan usahatani sering dijadikan indikator pembangunan ekonomi pedesaan.

I.II Rumusan Masalah

1.apakah dengan menganalisis factor-faktor yang ada seperti pertumbuhan dana proyeksi penduduk Indonesia target MDGs dapat terwujud?

2. Sejauhmanakah keberadaan LKM di lingkungan masyarakat pedesaan mampu menjalankan perannya dalam menciptakan pembangunan ekonomi di pedesaan?

I.III Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi target pembangunan global dan juga tantangan pencapaian MDGs serta prioritas pembangunan ekonomi di Indonesia.

Penelitian membahas fenomena LKM dan perspektifnya dalam pembangunan ekonomi pedesaan dengan fokus pada adopsi inovasi pertanian, serta mengungkap faktor-faktor kritis keberhasilan LKM dan menyusun strategi pengembangan LKM ke depan untuk mendukung kegiatan usahatani.dan juga menjadi bahan masukan dalam penyusunan kebijakan terkait pembangunan ekonomi.

Menganalisis potensi dan permasalahan LKM yang dapat dijadikan sebagai dasar pengembangan di masa depan, yang memungkinkan menjadi salah satu pilar sistem keuangan nasional.

I.IV Kerangka Pemikiran

Berdasarkan landasan yang ada seperti landasan teoritis yang dapat menjadi acuan untuk kerangka konseptual dalam penelitian ini maupun terhadap variable yang akan di teliti.Untuk itu dibuat kerangkan dari permasalahan yang akan diteliti sebagai berikut :

Dijelaskan dalam kerangka pemikiran diatas dalam penginputan data diambil dari variable seperti mengambil contoh dari sector LKM (lembaga keuangan mikro) dengan melakukan pendekatan melaui metode kuantitatif untuk mengetahui tingkat pengaruh LKM terhadap pembangunan ekonomi di indonesia.Untuk hasil dari metode kuantitatif terdapat dalam poko-pokok kesimpulan dan saran.

Review Jurnal Terbaru

Topik : Pembangunan Ekonomi

KAJIAN PRIORITAS PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA

Rina Sugiarti

LATAR BELAKANG MASALAH

Millenium development goals (MDGs) merupakan deklarasi millennium summit yang menyatakan komitmen dalam suatu kebersamaan dengan komunitas internasional unatuk mencapai tujuan tujuan yang terukur untuk pembangunan dan pengurangan kemiskinan pada tahun 2015.Indonesia sebagai Negara yang berkeinginan untuk mewujudkan target MDGs ,harus melihat dan menganalisa tantangan , kondisi dan alternative uantuk mencapai MDGs di Indonesia .Tingginya jumlah kemiskinan di Indonesia ,menjadikan suatu tantangan yang berat.Penduduk miskin tidak terbatas pada kekurangan uang saja tapi juga keterbatasan financial dalam mengakses sarana dan prasarana social ekonomi.Kondisi pekerjaan pertanian yang merupakan mata pencarian utama mayoritas penduduk Indonesia, dari kondisi tersebut dapat  diprediksi pembangunan global ,tantangan pencapaian MDGs serta prioritas pembangunan ekonomi Indonesia.

PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang diatas ,maka pertanyaanb penelitian ini adalah apakah dengan menganalisis factor-faktor yang ada seperti pertumbuhan dana proyeksi penduduk Indonesia target MDGs dapat terwujud ?

Tujuan penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi target pembangunan global dan juga tantangan pencapaian MDGs serta prioritas pembangunan ekonomi di Indonesia.

Metodologi penelitian

Data yang digunakan berasal dari variabel sepeti jumlah penduduk,batasan garis kemiskinan,jumlah penduduk miskin,angkatan kerja,tingkat pengangguran.

Data tesebut dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh dari variabel yang di uji.

Hasil

 

Dari jumlah penduduk miskin tersebut hampir 65% penduduk  miskin berada di pedesaan dan sebagian besar berada di kawasan Indonesia timur.bila dirinci per daerah pada tahun 2004 provinsi papua merupakan provinsi dengan persentase penduduk miskin tertinggi yaitu sekitar 38,7 persen  disusul Maluku sekitar 32,13 persen.Dan pada tahun 1996-2006 penduduk muskin mengalami penurunan namun terlihat kembali pada tahun 2006.Hal ini perlu penanganan yang seriusuntuk mencapai target tingkat kemiskinan sebesar 7,55 persen pada  tahun 2015 agar uapya penagngulangan kemiskinan kembali pada jalurnya.

Prioritas pembangunan ekonomi Indonesia adalah mewujudkan Indonesia maju dan mandiri,adil dan demokratis serta aman dan bersatu dalam wadah negara kesatuan Republik Indonesia.kemudian diterjemahkan kedalam misi yaitu mendorong pembangunan yang menjamin pemerataan yang seluas-luasnya didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas, infrastruktur yang maju dan penerapan ilmu pengetahuan  dan berwawasan lingkungan serta didukung oleh pelaksanaan politik luar negeri yang bebas dan aktif.

Kesimpulan

Dari factor kunci yang anda , dapat dibuat akar permasalahan dan solusinya dalam memcahkan permasalahan kemiskinan di Indonesia.bebrapa factor tesebut hanya sebagian kecil dari berbagai masalah yang membutuhkan alternative solusi dalam upaya pencapaian target MDGs 2015.pembangunan yang sejatinya tetap berkomitmen untuk menurunkan kemiskinan secara menyeluruh ,bukan sebagian saja,dan pencapaian dengan waktu yang lebih cepat.

Saran

Perlu adanya komitmen terhadap kemiskinan dalam upaya mencapai target MDGs yang di inginkan serta mendorong pembangunan yang menjamin pemerataan yang seluas-luasnya didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas, infrastruktur yang maju dan penerapan ilmu pengetahuan  dan berwawasan lingkungan serta didukung oleh pelaksanaan politik luar negeri yang bebas dan aktif

FENOMENA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO

DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN EKONOMI PEDESAAN

Rachmat Hendayana dan Sjahrul Bustaman

Latar belakang masalah

Pembangunan ekonomi pedesaan sebagai bagian integral dari Pembangunan

Ekonomi Nasional, keberhasilannya banyak di sokong oleh kegiatan usahatani. Hal itu

merujuk fakta, sebagian besar masyarakat di pedesaan menggantungkan hidupnya dari

kegiatan usahatani. Oleh karena itu tidak mengherankan, kegiatan usahatani sering

dijadikan indikator pembangunan ekonomi pedesaan.

Kelemahan petani justru pada adopsi inovasi

teknologi yang relatif rendah sebagai dampak penguasaan modal usahatani yang lemah.

Untuk mengatasi kekurangan modal usahatani, petani biasanya mengusahakan tambahan

modal dari berbagai sumber dana baik dari lembaga keuangan formal (perbankan) maupun

kelembagaan jasa keuangan non formal. Namun umumnya karena petani sering tidak

memiliki akses terhadap lembaga perbankan konvensional, ia akan memilih untuk

berhubungan dengan lembaga jasa keuangan informal seperti petani pemodal (pelepas

uang – rentenir), atau mengadakan kontrak dengan pedagang sarana produksi dan sumber

lain yang umumnya sumber modal tersebut mengenakan tingkat bunga yang irrasional

karena terlalu tinggi dan mengikat.

Tujuan penelitian

Penelitian membahas fenomena LKM dan perspektifnya dalam pembangunan ekonomi pedesaan dengan fokus pada adopsi inovasi pertanian, serta mengungkap faktor-faktor kritis keberhasilan LKM dan menyusun strategi pengembangan LKM ke depan untuk mendukung kegiatan usahatani.dan juga menjadi bahan masukan dalam penyusunan kebijakan terkait pembangunan

ekonomi pedesaan ke depan.

 

Rumusan masalah

Sejauhmanakah keberadaan LKM di lingkungan masyarakat pedesaan mampu menjalankan perannya dalam menciptakan pembangunan ekonomi di pedesaan ?

Metodologi

 

Metode penelitian : penelitian ini menggunakan pendekatan analisis deskriptif kualitatif dipertajam dengan analisis Structure Conduct Performance (SCP). Untuk mengungkap perspektif LKM dalam pembangunan ekonomi pedesaan, dilakukan pendekatan pada aspek kekuatan (= strengthen), kelemahan (= weaknesses), peluang (= opportunity ) dan ancaman (= threat ) atau disingkat SWOT.

 

Variabel : hasil pengkajian LKM di Jawa dan Luar Jawa meliputi Jawa Barat, Banten, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan.

 

Data : Pengumpulan data primer dari Pengurus LKM terpilih dan nasabah LKM sebagai responden dilakukan melalui diskusi kelompok dan wawancara individual (survey) menggunakan pedoman pertanyaan dan kuesioner.

 

Hasil

Hasil identifikasi di lapangan menjumpai terdapat tiga kategori bentuk LKM yang

berkembang yakni LKM Bank, LKM Koperasi dan LKM bukan Bank bukan Koperasi.

Masing-masing LKM menerapkan skema perkreditan yang berbeda. Pola operasional

LKM Bank mengikuti pendekatan perbankan umum/ konvensional, LKM Koperasi

menerapkan pola simpan pinjam sedangkan LKM bukan Bank dan Bukan Koperasi pola

operasionalnya beragam.

Skema perkreditan LKM Bukan Bank Bukan Koperasi (B3K) tersebut meliputi

replikasi pola Grameen bank, Gabungan Kelompok Tani dan Unit Permodalan Pengelola

Permodalan Kelompok Petani (UPPKP). Pengelolaan keuangan oleh Gabungan Kelompok

Tani dan UPPKP pada dasarnya merupakan wujud pengelolaan keuangan dengan sistem

bergulir. Capital yang digunakan bersumber dari Bantuan Langsung Masyarakat (BLM).

Dari sisi kelembagaan, indikator keberhasilan ditunjukkan oleh perkembangan

jumlah peserta dan perkembangan aset serta dana yang terserap. Di LKM yang dikelola

YPKUM Bogor-Jawa Barat misalnya, dana yang sudah tersalurkan sejak tahun 1989

sampai bulan Maret 2007 mencapai Rp 12 Milyar dengan kecenderungan meningkat,

jumlah tabungan anggota mencapai 2,6 Milyard. Non Perfomance Loan (NPL), yang

menunjukkan rasio tunggakan terhadap jumlah pinjaman relatif kecil (1,9 %), jauh

dibawah batas toleransi (5%). Kondisi ini menunjukkan bahwa kredit yang disalurkan

cukup bermanfaat bagi masyarakat sebagai tambahan modal untuk usaha produktif.

Buktinya, mereka mampu membayar angsuran kredit dengan lancar.

 

Kesimpulan

(1) Keberadaan LKM diakui masyarakat memiliki peran strategis sebagai intermediasi

aktivitas perekonomian yang selama ini tidak terjangkau jasa pelayanan lembaga

perbankan umum/bank konvensional;

11

(2) Secara faktual pelayanan LKM telah menunjukkan keberhasilan, namun

keberhasilannya masih bias pada usaha-usaha ekonomi non pertanian. Skim

perkreditan LKM untuk usahatani belum mendapat prioritas, hal itu ditandai oleh

relatif kecilnya plafon (alokasi dana) untuk mendukung usahatani, yakni kurang dari

10 % terhadap total plafon LKM;

 

Saran

Jurnal ini sudah bagus dalam penyajian maupun dalam penulisannya tapi perlu tambahan dalam membuat jurnal-jurnal selanjutnya yaitu perlu ditambahkan data yang berasal dari data sekunder dan juga melakukan pendekatan lain selain deskriptif.

 

 

PEMBERDAYAAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO

SEBAGAI SALAH SATU PILAR SISTEM KEUANGAN NASIONAL:

UPAYA KONKRIT MEMUTUS MATA RANTAI KEMISKINAN

 

 

Latar Belakang masalah

 

Keberadaan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) tidak terlepas dari perkembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Peranan UMKM terutama sejak krisis moneter tahun 1998 dapat dipandang sebagai katup penyelamat dalam proses pemulihan ekonomi nasional, baik dalam mendorong laju pertumbuhan ekonomi maupun penyerapan tenaga kerja.

Perkembangan sektor UMKM yang demikian menyiratkan bahwa terdapat potensi yang besar atas kekuatan domestik, jika hal ini dapat dikelola dan dikembangkan dengan baik tentu akan dapat mewujudkan usaha menengah yang tangguh, seperti yang terjadi saat perkembangan usaha-usaha menengah di Korea Selatan dan Taiwan. Namun, disisi yang lain UMKM juga masih dihadapkan pada masalah mendasar yang secara garis besar mencakup: pertama, masih sulitnya akses UMKM pada pasar atas produk-produk yang dihasilkannya, kedua, masih lemahnya pengembangan dan penguatan usaha, serta ketiga, keterbatasan akses terhadap sumber-sumber pembiyaan dari lembaga-lembaga keuangan formal khususnya dari perbankan.

Upaya pengentasan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah selama ini lebih menitikberatkan bentuk-bentuk transfer atau subsidi, padahal dalam rantai kemiskinan tidak selalu harus diatasi dengan cara tersebut. Aspek yang lebih penting adalah memutus mata rantai kemiskinan yang dapat dilakukan antara lain dengan memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat miskin menjadi produktif, yang dalam pepatah disebut “jangan berikan umpannya tapi berikanlah kailnya”, sehingga sangat relevan jika mengupayakan LKM sebagai salah satu pilar sistem keuangan nasional.

 

Perumusan Masalah

Pertanyaan penelitian yang diangkat dalam tulisan ini adalah:

(1) Bagaimana menjadikan LKM semakin berkembang bahkan menjadi salah satu pilar dari sistem keuangan nasional?

(2) Bagaimana meningkatkan peran LKM dalam mendukung pemberdayaan UKM?

Tujuan Penelitian

1. Menganalisis peranan LKM sebagai sumber pembiayaan UKM,

2. Menganalisis potensi dan permasalahan LKM yang dapat dijadikan sebagai dasar pengembangan di masa depan, yang memungkinkan menjadi salah satu pilar sistem keuangan nasional.

 

Metodologi Penelitian

Data yang digunakan dalam tulisan ini bersumber dari data sekunder yaitu publikasi Badan Pusat Statistik, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Bank Indonesia, Pegadaian, Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (Pinbuk) serta sumber lainnya yang terkait. Sementara alat analisis yang dipakai adalah bersifat deskriptif. Studi kepustakaan, baik yang berasal dari buku teks maupun jurnal/majalah merupakan sumber yang sangat penting, begitu pula diskusi dengan teman seprofesi guna mempertajam analisisnya.

Hasil

Analisis Perkembangan LKM dan UKM dalam Memutus Mata Rantai Kemiskinan Menganalisis keberadaan LKM tidak terlepas perkembangan UKM dan perkembangan LKM itu sendiri di Indonesia. Keberadaan LKM muncul seiiring dengan pesatnya aktifitas UKM namun di sisi lain dihadapkan pada kendala keterbatasan mengakses sumber-sumber pembiayaan dari lembaga-lembaga keuangan formal. Pembahasan disini akan diawali dengan perkembangan UKM, kemudian dilanjutkan dengan darimana UKM memperoleh sumber-sumber permodalan, perkembangan LKM dan diakhiri dengan uraian potensi dan permasalahan LKM di masa mendatang.

Perkembangan UKM

Berdasarkan Data BPS tahun 2005, kondisi UKM periode 2001 sampai 2004 menunjukkan perkembangan positif. Selama periode ini, kontribusi UKM terhadap produk domestik bruto rata-rata mencapai 56,04 persen. Secara sektoral aktivitas UKM ini mendominasi sektor pertanian, bangunan, perdagangan, hotel dan restoran.Sektor-sektor ini merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja.

 

 

terlihat bahwa masing-masing kelompok usaha memiliki keunggulan komparatif dan saling melengkapi satu dengan lainnya. Kelompok Usaha Besar memiliki potensi sebagai motor pertumbuhan, sementara kelompok Usaha Kecil sebagai penyeimbang pemerataan dan penyerapan tenaga kerja.

Hambatan ini timbul karena lembaga-lembaga keuangan formal pada umumnya memperlakukan UKM sama dengan Usaha Menengah dan Besar dalam setiap pengajuan pembiayaan, yang antara lain mencakup kecukupan jaminan, modal, maupun kelayakan usaha .Padahal hampir sebagian besar pelaku UKM tidak mampu memenuhi persyaratan tersebut disamping kebutuhan mereka masih dalam skala kecil, yang dipandang oleh sebagian pelaku lembaga-lembaga keuangan formal memberatkan biaya operasional.

 

 

Kesimpulan

Upaya pengentasan kemiskinan dapat dilakukan dengan memutus mata rantai kemiskinan itu sendiri,antara lain dengan memperluas akses Usaha Kecil dan Mikro (UKM) dalam mendapatkan fasilitas permodalan yang tidak hanya bersumber dari lembaga keuangan formal tapi juga dari Lembaga Keuangan Mikro (LKM).

Potensi yang cukup besar tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal, karenamasmenghadapiberbagai kendala dan keterbatasan antara lain aspek kelembagaan yang tumpang tindih, keterbatasan sumber daya manusia dalam pengelolaan LKM dan kecukupan modal,

Upaya untuk menguatkan dan mengembangkan LKM sebagai salah satu pilar sistem keuangan nasional, diantaranya yang mendesak adalah menuntaskan RUU tentang LKM agar terdapat kejelasan dalam pengembangan LKM. Serta komitmen pemerintah dalam memperkuat UKM sebagai bagian tidak terpisahkan dari pengembangan LKM.

Saran

Perlu adanya upaya pengentasan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah selama ini lebih menitikberatkan bentuk-bentuk transfer atau subsidi.Dan upaya untuk menguatkan dan mengembangkan LKM sebagai salah satu pilar sistem keuangan nasional.

 

 

 

 

 

 

 

 

Terapi Psikologi (review)

EFEKTIVITAS TERAPI RASIONAL EMOTIF (TRE) DALAM MENGURANGI PIKIRAN TIDAK RASIONAL DAN STRES PADA PEREMPUAN YANG MENGALAMI KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT)

Latar Belakang Masalah

Tidak jarang dalam kehidupan rumah tangga, perempuan mendapatkan kekerasan dari pria yang adalah suaminya sendiri. Sebagai gambaran, dari 279 kasus kekerasan terhadap perempuan yang ditangani oleh Mitra Perempuan di Jakarta dan sekitarnya pada tahun 2008, tercatat 82,02% adalah kekerasan dalam rumah tangga, dan 76,98% adalah kekerasan yang dilakukan oleh suami, serta 6,12% yang dilakukan oleh mantan suami (Mitra Perempuan). Padahal dalam UU no. 23 Th 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga, disebutkan bahwa KDRT merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap martabat kemanusiaan serta bentuk diskriminasi yang harus dihapuskan.

Rumusan Masalah

Apakah dalam penelitian ini dapat diketahui seberapa besar keefektifitasan dari terapi rasional emotif dalam mengurangi KDRT?

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana gambaran kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), stres, dan pikiran tidak rasional yang dialami oleh seorang perempuan yang mengalami KDRT, serta melihat efektifitas Terapi Rasional Emotif (TRE) dalam menurunkan pikiran tidak rasional (irational beliefs) dan stres.

Model Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara dan observasi, yang digunakan untuk mengungkap secara mendalam kekerasan dalam rumah tangga, stres, dan pikiran tidak rasional yang dialami subjek sebelum, selama, dan setelah terapi rasional emotif. Karakteristik subjek penelitian adalah perempuan yang mengalami kekerasan rumah tangga dari suami yang tidak menyalahgunakan alkohol, mengalami stress, mempunyai pikiran tidak rasional, dan bersedia untuk mengikuti terapi rasional emotif. Jumlah subjek adalah satu orang.

Hasil

Gambaran Kekerasan Rumah Tangga (KDRT)

Subjek mengalami kekerasan rumah tangga pertama kali dari suaminya pada saat mengandung anak pertama pada usia kandungan delapan bulan. Namun, tampak ada perubahan setelah terapi mulai dilakukan. Selama terapi subjek telah dua kali diberikan uang penghasilan tambahan oleh suaminya, hal yang sudah lama tidak ia dapatkan

Gambaran Stres

Sebelum terapi, subjek biasanya baru bisa tidur di atas pukul sebelas terkadang sampai pukul 1 pagi, terlebih setelah peristiwa KDRT. Setiap hari subjek merasakan sakit kepala Setelah terapi, terlihat gejala-gejala fisik tersebut berkurang. Pikiran subjek lebih tenang sehingga tidurnya pun lebih nyenyak. Sakit kepala menjadi bekurang.

Gambaran Pikiran Tidak Rasional

Sebelum mengikuti terapi, hampir setiap kali suami menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan harapan subjek, timbul pikiran tidak rasional pada subjek Sejak mengikuti TRE, tampak bahwa subjek mulai mengerti tentang pengaruh pikiran-pikiran tidak rasional terhadap emosi dan perilakunya. Perilakunya pun mulai berubah

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi perubahan terhadap prilaku yang sebelumnya banyak terjadi kekerasan dalam rumah tangga kini sudah berubah menjadi lebih baik karena terapi rational emotif.

Saran

Secara keseluruhan jurnal sudah sudah memenuhi standar penulisan namun diharapkan dalam mengambil data tidak hanya dengan pendekatan kualitatif  tetapi juga dibarengi dengan data yang diambil dengan pendekata kuantitatif.

ANALISIS TINGKAT KEPUASAN ORANG TUA SISWA TERHADAP PEMBERIAN BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH (BOS)

PADA SD NEGERI DI KOTA BEKASI

Latar Belakang Masalah

Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) adalah program pemerintah untuk penyediaan pendanaan biaya nonpersonalia bagi satuan pendidikan dasar sebagai pelaksanaan program wajib belajar. Program BOS bertujuan untuk membebaskan biaya pendidikan bagi siswa tidak mampu dan meringankan bagi siswa lain, agar mereka memperoleh layanan pendidikan dasar yang lebih bermutu sampai tamat dalam rangka penuntasan Wajib Belajar Sembilan Tahun.

Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

Apakah dalam penelitian ini dapat diketahui seberapa puas tingkat kepuasan terhadap program BOS di SDN di BEKASI?

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana tingkat kepuasan orang tua siswa atas pemberian Program BOS pada SDN di Kota Bekasi

Model Penelitian

Peneliti menggunakan instrumen kuesioner yang telah melalui tahap uji validitas dan reliabilitas. Kuesioner disebar kepada 150 responden menggunakan teknik pengambilan sampel acak dengan cara random sampling. Peneliti membagi kuesioner secara proporsional berdasarkan jumlah siswa SD Negeri di 12 Kecamatan yang ada di Kota Bekasi.

Teknik pengolahan data menggunakan Analisis Tingkat Kepentingan/harapan dan Kinerja/Kepuasan konsumen (Importance-Performance Analysis), yaitu membandingkan antara harapan dengan pelaksanaan yang menghasilkan tingkat kesesuaian, kemudian dalam penelitian ini terdapat 2 buah variabel yang diwakilkan oleh huruf X dan Y, di mana X merupakan tingkat kinerja/pelaksanaan yang dapat memberikan kepuasan konsumen, sedangkan Y merupakan tingkat kepentingan/harapan konsumen.

Adapun rumus yang digunakan adalah :

%100×≡YiXiTki

Di mana

Tki = Tingkat kesesuaian responden;

Xi = Skor penilaian kinerja/pelaksnaan;

Yi = skor penilaian kepentingan konsumen


HASIL

Tingkat Kesesuaian Pertanyaan Penilaian Pelaksanaan Penilaian Kepentingan Tingkat Kesesuaian
1.Bapak/Ibu dibebaskan dari biaya pendaftaran sekolah 701 675 103,85 %
2.Bapak/Ibu dibebaskan dari pembayaran SPP tiap bulan 691 675 102,37 %
3.Bapak/Ibu dibebaskan dari pembelian buku paket pelajaran sekolah 657 648 101,38 %
4.Bapak/Ibu dibebaskan dari biaya pembangunan sekolah 666 651 102,30 %
5.Bapak/Ibu dibebaskan dari biaya pemeliharaan sekolah 614 582 105,5 %
6.Bapak/Ibu dibebaskan dari pembayaran ekstrakulikuler di sekolah 605 578 104,67 %
7.Bapak/Ibu dibebaskan dari biaya fotocopy untuk ulangan harian 585 575 101,74 %
8.Program BOS mengurangi jumlah anak-anak yang putus sekolah 681 648 105,09 %
9.Sekolah menjelaskan tentang BOS kepada orang tua siswa 636 636 100 %
10.Bapak/Ibu dapat memantau secara langsung pemanfaatan BOS 606 590 102,71 %
11.Sekolah memberikan pinjaman buku paket pelajaran kepada setiap anak 671 700 95,85 %
12.Bapak/Ibu mengetahui tentang BOS dari media cetak seperti koran, tabloid, pamflet, brosur dan lain-lain 574 578 99,31 %
13.Bapak/Ibu mengetahui tentang BOS dari media elektronik seperti televisi, radio, internet dan lain-lain 779 593 131,37 %
14.Bapak/Ibu mengetahui tentang BOS dari saudara atau teman atau tetangga 532 523 101,72 %
15.Bapak/Ibu menyekolahkan anak di sekolah yang mendapatkan BOS 642 631 101,74 %

Hasil analisis menunjukkan bahwa orang tua siswa SD Negeri di Kota Bekasi sangat puas yang ditunjukkan dengan rata-rata tingkat kesesuaian antara tingkat pelaksanaan dan kepentingan/harapan berada di atas 100 %.

KESIMPULAN

Penelitian ini menunjukkan bahwa orang tua siswa sangat puas terhadap pemberian BOS pada SDN di Kota Bekasi. Hal ini dapat terlihat dari besarnya tingkat kesesuaian yang rata-rata diatas 100 %, yang menunjukkan bahwa tingkat pelaksanaan Program BOS tersebut telah melebihi dari harapan orang tua siswa.

SARAN

Secara keseluruhan jurnal sudah sudah memenuhi standar penulisan namun diharapkan dalam mengambil data tidak hanya dengan data primer tetapi juga dibarengi dengan data sekunder yang ada.

PENGARUH PEMBANGUNAN JALAN TEROWONGAN DI JALAN RAYA PASAR MINGGU TERHADAP TINGKAT PENDAPATAN USAHA DAGANG DI SEKITARNYA

Latar Belakang Masalah

Di tengah keadaan ekonomi yang belum stabil di Indonesia, perkembangan dunia usaha dan perdagangan, khususnya dalam usaha menengah ke bawah justru mengalami kemajuan yang pesat.Banyak usaha didirikan oleh para wiraswastawan yang berlokasi di pinggir jalan raya. Nampaknya lokasi tersebut dianggap paling strategis, karena dapat dengan mudah dikunjungi konsumen, sehingga penerimaan yang besar dapat dengan mudah diperoleh.

Faktor kunci dalam menyeleksi  lokasi yang  baik menurut Longeneckerm yaitu kemudahan dalam mencapai konsumen, kondisi lingkungan bisnis, tersedianya sumber daya, kecenderungan alam, dan tersedianya biaya dan tempat.  Lokasi adalah keputusan yang dibuat perusahaan berkaitan dengan dimana operasi dan stafnya akan ditempatkan.Perencanaan lokasi merupakan salah satu kegiatan awal yang harus dilakukan sebelum perusahaan mulai beroperasi. (Herjanto 1999 : 24).  Penentuan lokasi bertujuan untuk dapat membantu perusahaan beroperasi atau berproduksi dengan lancar, efektif dan efisien.  (Assauri  2004 : 40).

Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

Apakah dalam penelitian ini terdapat pengaruh yang signifikan setelah maupun sesudah pembangunan terowongan terhadap tingkat produktifitas dan pendapatan usaha dagang disekitarnya ?

Tujuan Penelitian

  • Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji hubungan antara aspek perubahan infrakstuktur dengan tingkat produktifitas mayarakat yang ada di sekitarnya

Model Penelitian

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendapatan bersih pedagang kaki lima sebelum dan ketika pembangunan terowongan. Pendapatan bersih dihitung berdasarkan penerimaan dan pengeluaran setiap usaha yang disurvei. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara dari lima (5) pedagang kaki lima. Data selanjutnya diolah menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan deskridtif verifikatif. Hipotesis penelitian yang diuji adalah:

Ho: Tidak ada perbedaan yang signifikan rata-rata pendapatan sebelum dan ketika pembangunan Jalan terowongan.

Ha: Ada perbedaan yang signifikan rata-rata pendapatan sebelum dan ketika pembangunan Jalan terowongan.

Selain itu juga dikumpulkan data profil usaha yang didirikan di sekitar lokasi.


HASIL

Pada Tabel diungkapkan bahwa 40% masyarakat yang beraktifitas di pasar dan 50% masyarakat yang berada di sekitar terminal merasa terganggu dengan adanya pembangunan terowongan. Sedangkan masyarakat yang beraktifitas di sekitar stasiun dan di sekitar pembangunan terowongan tidak merasa terganggu dengan adanya pembangunan. Jumlah masyarakat yang tidak merasa terganggu dengan adanya pembangunan terowongan lebih banyak daripada yang merasa terganggu, hal ini disebabkan karena sebagian besar tempat di mana mereka beraktifitas letaknya jauh dari pembangunan terowongan.

. Persepsi Masyarakat Terhadap Pengaruh Pembangunan Jalan Terowongan Terhadap Masyarakat Sekitar Lokasi Berpengaruh Tidak berpengaruh
Jumlah Persentase (%) Jumlah Persentase (%)
Pasar 4 40% 6 60%
Terminal 5 50% 5 50%
Stasiun 0% 10 100%
Pembangunan 0% 10 100%

Rata – Rata Pendapatan Bersih/Bulan Usaha Dagang di Sekitar Lokasi

Nama Usaha Rata – Rata Pendapatan Bersih/Bulan
Sebelum Ketika
(Mei 2002 s/d April 2004) ( Mei 2004 s/d April 2006)
Kelana Sentosa Murni Rp. 2,346,875 Rp. 2,218,750
Warteg Bahari Rp. 2,885,600 Rp. 2,962,900
Salon Oscar Rp. 2,143,750 Rp. 2,013,500
Warung Tenda Uni Ani Rp. 3,274,200 Rp. 3,236,250
Toko Buah Rp. 786,500 Rp. 822,250

KESIMPULAN

Penelitian ini telah memperlihatkan bahwa dalam pembangunan terowongan tidak terjadi pengaruh yang signifikan terhadap rata-rata pendapatan masyarakat disekitarnya.

SARAN

Secara keseluruhan jurnal sudah sudah memenuhi standar penulisan namun diharapkan dalam mengambil data tidak hanya dengan data primer tetapi juga dibarengi dengan data sekunder yang ada.